Ingin Tahu

Bahaya Bakteri Aeromonas salmonicida Pada Ikan Nila

ditulis oleh Khoerunnisa, pada 9 September 2024

Potensi budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) di Cirebon terus mengalami peningkatan produksi. Pada tahun 2010 produksi ikan nila telah mencapai 16,7 ton. Pada manajemen budidaya ikan nila yang kurang baik dapat menimbulkan penyakit bakteri yang dapat menyebabkan kematian massal pada ikan nila hingga 100%. Salah satu bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada ikan nila yaitu Aeromonas salmonicida. Bakteri tersebut merupakan bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit peradangan pada bagian kulit yang terinfeksi secara akut maupun kronis yang biasa disebut dengan furunculosis (Rantam, 2003). Pada umumnya penyakit yang menyerang ikan sangat sulit dan jarang dapat disembuhkan sehingga diperlukan suatu tindakan manajemen kesehatan ikan agar ikan tidak mudah terinfeksi penyakit yang akan berakibat pada kerugian (Mawardi, 2016).

Berdasarkan pemeriksaan tubuh ikan nila, gejala-gejala klinis ikan nila yang terinfeksi bakteri Aeromonas salmonicida yaitu terjadi pendarahan atau hemoragi pada permukaan tubuh dan jaringan otot yang selanjutnya mengganggu sistem kerja organ dalam ikan, terdapat luka borok (furuncle) dan perut kembung (dropsi). Menurut Afrianto dan Liviawaty (1992), gejala klinis dapat menyebabkan kemampuan berenang ikan menurun, sering naik ke permukaan air dikarenakan insang rusak, sehingga sulit bernapas dan mengakibatkan kematian yang tinggi.

Kualitas air dan pengaruhnya terhadap ikan sangat penting diketahui agar ikan sehat dan tumbuh dengan baik. Lingkungan yang tidak mendukung seperti meningkatnya suhu akan menyebabkan ikan menjadi stres. Stres memiliki pengaruh besar terhadap penurunan daya tahan ikan sehingga proses metabolisme akan terganggu. Keadaan tersebut menyebabkan ikan rentan terkena penyakit bakteri. Ikan yang sakit perlu biaya, waktu dan tenaga untuk mengobatinya. Ikan tersebut selain menyebabkan kematian, ikan yang masih hidup atau sembuh pun kualitasnya menurun. Oleh karena itu, pencegahan dengan menjaga kualitas air jauh lebih baik daripada pengobatan ikan akibat pengaruh kualitas air yang buruk (Lesmana, 2004).